![]() | |
| http://www.pendoasion.wordpress.com |
PENGANTAR: Selalu, dalam
perjalanan ke lain kota, dengan Bus Patas ber-AC, ada kegiatan tersendiri.
Kalau tidak tidur, ya membaca apa saja. Bisa buku, majalah atau surat kabar.
Jika bosan, maka mulailah tangan ini mengetik di BB yang selalu setia
menemaniku. Biasanya membuat sajak. Setelah berkali-kali perjalanan yang aku
lupa jumlahnya, lupa tujuannya, lupa hari, tanggal dan tahunnya, maka inilah
sejumlah "sajak perjalanan" itu. Juga lupa urutannya, karena begitu
jadi kulempar saja sebagai komen di FB dan kembali kupunguti setelah sekian
lama berserak.
PERJALANAN SATU
INGIN
SEPERTI BAYANGAN
Aku
hanya ingin seperti bayangan
Melintas
diam tengah malam
Saat
semua orang terlelap dalam genggaman sang ratu malam
Mimpi
indah berkepanjangan, bersama dingin memabukkan
Hanya
engkau yang masih terjaga kekasihku
Terhanyut
dalam shalat tahajud sampai larut malam
Mengaji
dan melafalkan wiridan
Meleleh
air matamu melantunkan doa-doa keselamatan
bagi
keluarga, sahabat, dan entah sesiapa yang kamu sebut pelan
AKU
HARUS PULANG
Aku
harus pulang. Kenapa tergesa-gesa? katamu.
Bukankah
di luar sana gelap, angin kencang, dan dingin menusuk-nusuk tulang?
Iya,
tetapi lelaki sejati harus menepati janji. Mereka semua menungguku untuk
kembali.
Tidakkah
kau lihat mripat mereka berkilatan penuh harap? Menunggu tanpa berucap.
Mereka
akan selalu berkata: Papa, kenapa pergi terlalu lama?
Semua
terdiam. Udara membeku menghentikan pikiran.
Kalau
begitu pakailah jaketmu, katamu gelisah.
Ragamu
sudah tua dan ringkih. Tidak tahan angin dan tidak tahan goncangan.
Kau
bisa terpuruk di jalan. Menadah langit meminta hujan.
"Berangkalah
kekasihku, ah terlalu banyak yang menunggumu..."
NEGERI
BANYAK BICARA
Aku
melihat Negeri yang banyak bicara.
Apa
saja dibicarakan, sampai bibir melepuh mulut berbusa.
Media
TV mendiskusikan apa saja, kapan saja, topik apa saja.
Para
pakar bicara, dewan bicara, pemimpin bicara.
Tuhan,
bolehkah aku memohon sedikit saja?
Dua
telinga tidak cukup untuk mendengarkan. Sungguh.
Siapa
nanti yang akan mendengarkan suara rakyatmu?
YOGYA
DIKEPUNG HUJAN ABU
Yogya,
meski kabut menyelimuti tubuhmu, dan hujan abu selalu mengepung dirimu,
Tegarlah.
Sungguh.
Sudah jutaan doa dan puisi dihaturkan untukmu.
Jutaan
keprihatinan, jutaan desah, jutaan gumam.
Tabahlah,
wahai tlatah wingit, tempat Sultan berada.
Kipatkan
sengkolo, buka kesaktianmu, lingdungi wargamu.
Soalnya,
para keluargaku, para sahabatku, ada di rahimmu.
Yogya,
jangan kecewakan aku. Kalau tidak, kutinju mripatmu.
KUSAPA
DUNIA
Kusapa
dunia.Kusapa sahabat-sahabatku.
Sudah
berubahkah semuanya? Sudah berubahkah diriku?
Kadang
kuingin kembali kemasa kanak-kanak.Penuh keceriaan dan tiada beban.
Gusti
Allah, bisakah aku salin rupa? Serupa angin yang bertiup kencang menusuk bumi.
Serupa
ombak yang bergelora tiada henti.Serupa semasih muda semasih penuh pusaran
energi.
GUSTI
MENJAWABLAH
Siang
ini, aku harus menyeru padaMu. Kenapa berabad-abad lamanya kau selalu terdiam?
Sejak
sebelum Musa melintasi bukit Sinai. Kenapa Kamu selalu membisu meski tidak
bisu?
Selalu
memberi tetapi tidak meminta. Selalu mengampuni meski mereka pendusta.
Gusti,
menjawablah. Lihatlah, para pemimpin negeriku begitu jumawa.
Karena
Engkau diam, sepertinya mereka tidak takut dosa.
Mengacuhkan
rakyat memperbanyak khianat. Korupsi merajalela di mana-mana.
Negeri
siapakah ini? Mungkinkah seperti Sodom dan Gomorah?
Gusti,
bolehkah aku memintakan ampunan bagi mereka?
Menjawablah
Gusti, sebelum semuanya terlambat. Sebelum semuanya telat.
--------------------------

Tidak ada komentar:
Posting Komentar