Senin, 09 Juli 2012

SAJAK-SAJAK DI PERJALANAN

http://www.pendoasion.wordpress.com

PENGANTAR: Selalu, dalam perjalanan ke lain kota, dengan Bus Patas ber-AC, ada kegiatan tersendiri. Kalau tidak tidur, ya membaca apa saja. Bisa buku, majalah atau surat kabar. Jika bosan, maka mulailah tangan ini mengetik di BB yang selalu setia menemaniku. Biasanya membuat sajak. Setelah berkali-kali perjalanan yang aku lupa jumlahnya, lupa tujuannya, lupa hari, tanggal dan tahunnya, maka inilah sejumlah "sajak perjalanan" itu. Juga lupa urutannya, karena begitu jadi kulempar saja sebagai komen di FB dan kembali kupunguti setelah sekian lama berserak.



PERJALANAN SATU


INGIN SEPERTI BAYANGAN
Aku hanya ingin seperti bayangan
Melintas diam tengah malam
Saat semua orang terlelap dalam genggaman sang ratu malam
Mimpi indah berkepanjangan, bersama dingin memabukkan
Hanya engkau yang masih terjaga kekasihku
Terhanyut dalam shalat tahajud sampai larut malam
Mengaji dan melafalkan wiridan
Meleleh air matamu melantunkan doa-doa keselamatan
bagi keluarga, sahabat, dan entah sesiapa yang kamu sebut pelan


AKU HARUS PULANG
Aku harus pulang. Kenapa tergesa-gesa? katamu.
Bukankah di luar sana gelap, angin kencang, dan dingin menusuk-nusuk tulang?
Iya, tetapi lelaki sejati harus menepati janji. Mereka semua menungguku untuk kembali.
Tidakkah kau lihat mripat mereka berkilatan penuh harap? Menunggu tanpa berucap.
Mereka akan selalu berkata: Papa, kenapa pergi terlalu lama?
Semua terdiam. Udara membeku menghentikan pikiran.
Kalau begitu pakailah jaketmu, katamu gelisah.
Ragamu sudah tua dan ringkih. Tidak tahan angin dan tidak tahan goncangan.
Kau bisa terpuruk di jalan. Menadah langit meminta hujan.
"Berangkalah kekasihku, ah terlalu banyak yang menunggumu..."


NEGERI BANYAK BICARA
Aku melihat Negeri yang banyak bicara.
Apa saja dibicarakan, sampai bibir melepuh mulut berbusa.
Media TV mendiskusikan apa saja, kapan saja, topik apa saja.
Para pakar bicara, dewan bicara, pemimpin bicara.
Tuhan, bolehkah aku memohon sedikit saja?
Dua telinga tidak cukup untuk mendengarkan. Sungguh.
Siapa nanti yang akan mendengarkan suara rakyatmu?


YOGYA DIKEPUNG HUJAN ABU
Yogya, meski kabut menyelimuti tubuhmu, dan hujan abu selalu mengepung dirimu, Tegarlah.
Sungguh. Sudah jutaan doa dan puisi dihaturkan untukmu.
Jutaan keprihatinan, jutaan desah, jutaan gumam.
Tabahlah, wahai tlatah wingit, tempat Sultan berada.
Kipatkan sengkolo, buka kesaktianmu, lingdungi wargamu.
Soalnya, para keluargaku, para sahabatku, ada di rahimmu.
Yogya, jangan kecewakan aku. Kalau tidak, kutinju mripatmu.


KUSAPA DUNIA
Kusapa dunia.Kusapa sahabat-sahabatku.
Sudah berubahkah semuanya? Sudah berubahkah diriku?
Kadang kuingin kembali kemasa kanak-kanak.Penuh keceriaan dan tiada beban.
Gusti Allah, bisakah aku salin rupa? Serupa angin yang bertiup kencang menusuk bumi.
Serupa ombak yang bergelora tiada henti.Serupa semasih muda semasih penuh pusaran energi.


GUSTI MENJAWABLAH
Siang ini, aku harus menyeru padaMu. Kenapa berabad-abad lamanya kau selalu terdiam?
Sejak sebelum Musa melintasi bukit Sinai. Kenapa Kamu selalu membisu meski tidak bisu?
Selalu memberi tetapi tidak meminta. Selalu mengampuni meski mereka pendusta.
Gusti, menjawablah. Lihatlah, para pemimpin negeriku begitu jumawa.
Karena Engkau diam, sepertinya mereka tidak takut dosa.
Mengacuhkan rakyat memperbanyak khianat. Korupsi merajalela di mana-mana.
Negeri siapakah ini? Mungkinkah seperti Sodom dan Gomorah?
Gusti, bolehkah aku memintakan ampunan bagi mereka?
Menjawablah Gusti, sebelum semuanya terlambat. Sebelum semuanya telat.

--------------------------






Tidak ada komentar:

Posting Komentar