![]() |
| http://www.tokohwayangpurwo.blogspot.com |
| Oleh: Ki
Dalang Mbeling, Anggoro Suprapto
Kocap
Kacarito, wolak waliking zaman pun
terjadi. Petruk yang tidak pernah diperhitungkan dalam jagad perpolitikan
pewayangan tiba-tiba saja melejit namanya, dalam pemilihan secara langsung oleh
rakyat negeri Amarta, ia ditetapkan menjadi Ratu. Istilah yang pas sih
sebetulnya Petruk jadi Raja. Karena sebutan Ratu kan untuk kaum Hawa. Tetapi
dasar Petruk terkenal keras kepala, diam-diam suka mengamandemen Undang-undang
Negara, tentu saja lewat keputusan DPRA, Dewan Perwakilan Rakyat Amarta. Karena
zaman kerajaan, intervensi Ratu ke DPRA sudah hal yang lumrah.
Maka sejak dia terpilih dengan suara bulat, meski dia lelaki tetap minta
disebut sebagai Ratu. Walau menuai banyak protes, dia cuek saja. “Memangnya gue
pikirin,” begitu selalu komentarnya. Dengan terpilihnya Petruk menjadi “Amarta
Satu”, sebenarnya mengundang keheranan banyak pihak. Soalnya, Petruk ini kan
rakyat jelata. Boleh dikatakan, kaum pidak pendarakan, yaitu golongan
grass-root (akar rumput). Kalau rumput aja masih mending. Dia ini malah lebih
dalam lagi, di akarnya. Kok bisa jadi. Aneh kan? Mengalahkan para kaum
bangsawan berdarah biru yang jelas-jelas baik popularitas maupun dananya cukup
kuat.
Bayangkan, masak Yudistira, Arjuna, Kresna yang foto dan namanya selalu menjadi head
line media massa, bisa dengan mudah dikalahkan. Melihat ketidakwajaran
tersebut, maka Lembaga Survey Amarta pun mengadakan riset. Hasilnya? Salah satu
unsur kemenangan mutlak Petruk karena didukung oleh PDA, yaitu Partai Demokrat
Amarta. Partai yang sekarang ini sedang naik daun, di negeri ini. Ada lagi
unsur yang lain, yang tidak dimiliki oleh kandidat lain, yaitu, diam-diam
Petruk bisa merebut pusaka yang bernama Jamus Kalimasada.
Dengan pusaka tersebut di tangan Petruk, maka mendadak dia jadi sakti
mandraguna. Seperti tersihir, raykat, ABRI, Kepolisian Amarta, Kejaksaan,
Kehakiman, semua mendukung dia. Disamping itu, ketika Jamus Kalimasada dibuka,
isinya menganjurkan, kalau mau menang dalam pemilihan, harus berani main
politik uang. Wah. Dasar Petruk, yang biasa ugal-ugalan dalam hidupnya,
petunjuk itupun dilaksanakan dengan diam-diam. Tim suksesnya sudah diberi
instruksi, harus bisa melaksanakan dengan aman.
Pendek
kata, dengan berbagai cara, baik legal maupun illegal, akhirnya Petruk berhasil
menang mutlak. Beberapa bulan kemudian, dia pun ditetapkan sebagai raja…eh
ratu. Hidupnya pun langsung terangkat. Semula, sebelum menjadi ratu, dia hidup
bersama ayahnya Semar, yang menjadi lurah di Dusun Karangtumaritis. Nah, karena
strata hidup naik dratis, dia pun pindah tempat. Bukan ke istana keratuan,
tetapi malah memilih tinggal di rumah barunya di Perumahan Brangsong Indah, di
daerah Kendal. Pinggiran kota Amarta. Alasannya hawanya sejuk dan
nyaman.Seratus hari pemerintahannya, dia memang banyak dipuji-puji pers.
Sebagai ratu yang merakyat. Maklum, kan latar belakangnya dari rakyat jelata,
jadi tahu betul kebutuhan kawulo cilik.
Begitulah, lelakon Petruk yang spektakuler. Tahun demi tahun pun
terlampui. Tak terasa, ketika 5 tahun kemudian masa jabatannya habis, dia bisa
terpilih kembali. Berarti dua periode dia menjabat sebagai ratu, di negeri yang
mengagungkan demokrasi ini. Tentu saja, system demokrasi terpimpin, karena
dipimpin Ratu Petruk yang sekarang bergelar, Petruk Kanthong Bolong, atau biasa
dipanggil PKB. Kan sekarang musim menyingkat
nama, untuk para pejabat negara.
Tetapi yang namanya lelakon, apalagi lelakon wayang, selalu ada saja
goro-goro dalam pemerintahannya. Memang sebelum jadi ratu, setiap munculnya
para punokawan, termasuk Petruk yang juga selalu ada di dalamnya, pasti muncul
goro-goro. Meski sekarang sudah jadi orang pertama di negeri ini goro-goro itu
tidak dapat dihindari.
Pada
suatu pagi yang cerah, ketika Petruk alias PKB sedang main golf bersama tamu
dari negara tanah sabrang, angin pun bertiup kencang. Langit yang semula cerah
mendadak mendung. E, ladalah. Hong wilaheng sekaring bawono langgeng, lae,
lae…..Goro-goro pun muncul. Datanglah dari kejauhan Gareng dan Bagong, dua adik
sang Ratu, yang memang diangkat sebagai penasihat istana dan sekaligus juga sebagai
juru bicara keratuan, kalau zaman sekarang sih keprisidenan.
“Blaik Kang Petruk…!” sergah Bagong adik
bungsunya sambil ngos-ngosan, disusul Gareng di belakangnya.
“Sik
to sareh, ada apa? Ini di depan para pengawal dan tamu Negara mbok jangan
memanggil Kang. Ndeso tenan kowe kuwi,” bentak Petruk.
“Maaf
Yang Mulia PKB, salah ucap. Kebiasan waktu di Karangtumaritis sih,” sahut
Bagong dan Gareng hampir bersamaan.
Setelah bisa menenangkan diri, Bagong
melapor, kalau di alun-alun wetan, Limbuk dengan pakaian minim, hampir
telanjang, berdemo dengan cara menari bak Inul Daratista. Di belakangnya, para
ibu-ibu ikut mendukung dengan membawa poster-poster besar berisi kecaman karena
para petinggi Pamongpraja, tidak cepat mengusut beredarnya video porno mirip
artis-artis keraton yang sudah terkenal dan diidolakan kawula muda Amarta.
Mereka adalah tiga serangkai yang diduga mirip artis Arieli, Lunmeya dan
Sutari.
“Itu belum serem Pak PKB,” timpal Gareng,” di alun-alun kulon, para
mahasiswa didukung para aktivis LSM demo akbar. Ribuan pendemo membakar ban
gerobak sapi dan teriak-teriak, minta pihak keraton mengusut kasus Bank
Centurion, kasus Markus, pelemahan Kapeka (Komisi Pemberantasan Korupsi
Amarta), dan penyimpangan para oknum penegak hukum pamongpraja,” tambahnya.
“Kami khawatir, kalau tidak segera ditangani, pendemo akan merusak
segalanya. Padahal lokasi alun-alun kan di depan istana keraton. Bisa gawat,”
sergah Bagong lagi.
“Lah punggawanya pada kemana?” tanya Petruk.
“Malah pada menoton seronoknya limbuk dan ibu-ibu yang bergeol-geol,
mengundang syahwat,” jawab Gareng. E, ladalah!
Sinigeg ganti carito. Bumi gonjang-ganjing,
langit kelap-kelap, katon, oooooo………drodog-dog.
Singkatnya ceritera, mendengar semua hal-hal yang aktual yang belum
ditangani, banyak didemo, Petruk segera turun tangan. Apalagi dia sering
diejek, kurus, tinggi badannya, tapi lemah dan tidak tegas dalam mengambil
keputusan. Bahkan dapat julukan “Ratu Peragu”. Jengkel juga kan? Oleh karena
itu, dengan cepat dia mengambil keputusan. Mau tahu apa tindakan Ratu Petruk.
Inilah solusinya.
Dia memerintahkan Menteri Punggawa Peranan Wanita, menetapkan Limbuk
menjadi “Ratu Terseksi” se Amarta Raya. Limbuk yang memang suka sensasi dan
publikasi, jadi senang bukan main dan melupakan protesnya pada beredarnya video
porno. Profilnya ditampilkan di semua media massa. Mungkin termasuk di Harian
Semarang loh, suer….Tentu saja, seisi negeri jadi geger. Heboh, boh. Mahasiswa,
pemuka agama, tokoh-tokoh masyarakat, semua pada protes.
Berbulan-buan terjadi polemik berkepanjangan dan berlarut-larut di
negeri ini. Lalu bagaimana reaksi Sang Ratu Petruk? Dia malah enak-enak santai
di kaputren para selirnya. Ketika Bagong dan Gareng menyusul ke sana, buru-buru
Petruk memajukan jari telunjuk di bibirnya sambil berbisik:
Sssssstttt…..tenang, biasa, ilmu pengalihan perhatian. O, ladalah, dasar
wayang! ***
(Catatan: Sudah dimuat di Harian Semarang.)
-----------------------------------------------------------------------------------------
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar