Rabu, 25 Juli 2012

Wayang Mbeling: PETRUK JADI RATU

http://www.tokohwayangpurwo.blogspot.com 
Oleh: Ki Dalang Mbeling, Anggoro Suprapto 


     Kocap Kacarito, wolak waliking  zaman pun terjadi. Petruk yang tidak pernah diperhitungkan dalam jagad perpolitikan pewayangan tiba-tiba saja melejit namanya, dalam pemilihan secara langsung oleh rakyat negeri Amarta, ia ditetapkan menjadi Ratu. Istilah yang pas sih sebetulnya Petruk jadi Raja. Karena sebutan Ratu kan untuk kaum Hawa. Tetapi dasar Petruk terkenal keras kepala, diam-diam suka mengamandemen Undang-undang Negara, tentu saja lewat keputusan DPRA, Dewan Perwakilan Rakyat Amarta. Karena zaman kerajaan, intervensi Ratu ke DPRA sudah hal yang lumrah.
 
    Maka sejak dia terpilih dengan suara bulat, meski dia lelaki tetap minta disebut sebagai Ratu. Walau menuai banyak protes, dia cuek saja. “Memangnya gue pikirin,” begitu selalu komentarnya. Dengan terpilihnya Petruk menjadi “Amarta Satu”, sebenarnya mengundang keheranan banyak pihak. Soalnya, Petruk ini kan rakyat jelata. Boleh dikatakan, kaum pidak pendarakan, yaitu golongan grass-root (akar rumput). Kalau rumput aja masih mending. Dia ini malah lebih dalam lagi, di akarnya. Kok bisa jadi. Aneh kan? Mengalahkan para kaum bangsawan berdarah biru yang jelas-jelas baik popularitas maupun dananya cukup kuat.

     Bayangkan, masak Yudistira, Arjuna, Kresna  yang foto dan namanya selalu menjadi head line media massa, bisa dengan mudah dikalahkan. Melihat ketidakwajaran tersebut, maka Lembaga Survey Amarta pun mengadakan riset. Hasilnya? Salah satu unsur kemenangan mutlak Petruk karena didukung oleh PDA, yaitu Partai Demokrat Amarta. Partai yang sekarang ini sedang naik daun, di negeri ini. Ada lagi unsur yang lain, yang tidak dimiliki oleh kandidat lain, yaitu, diam-diam Petruk bisa merebut pusaka yang bernama Jamus Kalimasada.

   Dengan pusaka tersebut di tangan Petruk, maka mendadak dia jadi sakti mandraguna. Seperti tersihir, raykat, ABRI, Kepolisian Amarta, Kejaksaan, Kehakiman, semua mendukung dia. Disamping itu, ketika Jamus Kalimasada dibuka, isinya menganjurkan, kalau mau menang dalam pemilihan, harus berani main politik uang. Wah. Dasar Petruk, yang biasa ugal-ugalan dalam hidupnya, petunjuk itupun dilaksanakan dengan diam-diam. Tim suksesnya sudah diberi instruksi, harus bisa melaksanakan dengan aman.

    Pendek kata, dengan berbagai cara, baik legal maupun illegal, akhirnya Petruk berhasil menang mutlak. Beberapa bulan kemudian, dia pun ditetapkan sebagai raja…eh ratu. Hidupnya pun langsung terangkat. Semula, sebelum menjadi ratu, dia hidup bersama ayahnya Semar, yang menjadi lurah di Dusun Karangtumaritis. Nah, karena strata hidup naik dratis, dia pun pindah tempat. Bukan ke istana keratuan, tetapi malah memilih tinggal di rumah barunya di Perumahan Brangsong Indah, di daerah Kendal. Pinggiran kota Amarta. Alasannya hawanya sejuk dan nyaman.Seratus hari pemerintahannya, dia memang banyak dipuji-puji pers. Sebagai ratu yang merakyat. Maklum, kan latar belakangnya dari rakyat jelata, jadi tahu betul kebutuhan kawulo cilik.

     Begitulah, lelakon Petruk yang spektakuler. Tahun demi tahun pun terlampui. Tak terasa, ketika 5 tahun kemudian masa jabatannya habis, dia bisa terpilih kembali. Berarti dua periode dia menjabat sebagai ratu, di negeri yang mengagungkan demokrasi ini. Tentu saja, system demokrasi terpimpin, karena dipimpin Ratu Petruk yang sekarang bergelar, Petruk Kanthong Bolong, atau biasa dipanggil PKB.  Kan sekarang musim menyingkat nama, untuk para pejabat negara.

  Tetapi yang namanya lelakon, apalagi lelakon wayang, selalu ada saja goro-goro dalam pemerintahannya. Memang sebelum jadi ratu, setiap munculnya para punokawan, termasuk Petruk yang juga selalu ada di dalamnya, pasti muncul goro-goro. Meski sekarang sudah jadi orang pertama di negeri ini goro-goro itu tidak dapat dihindari.

   Pada suatu pagi yang cerah, ketika Petruk alias PKB sedang main golf bersama tamu dari negara tanah sabrang, angin pun bertiup kencang. Langit yang semula cerah mendadak mendung. E, ladalah. Hong wilaheng sekaring bawono langgeng, lae, lae…..Goro-goro pun muncul. Datanglah dari kejauhan Gareng dan Bagong, dua adik sang Ratu, yang memang diangkat sebagai penasihat istana dan sekaligus juga sebagai juru bicara keratuan, kalau zaman sekarang sih keprisidenan.

    “Blaik Kang Petruk…!” sergah Bagong adik bungsunya sambil ngos-ngosan, disusul Gareng di belakangnya.

   “Sik to sareh, ada apa? Ini di depan para pengawal dan tamu Negara mbok jangan memanggil Kang. Ndeso tenan kowe kuwi,” bentak Petruk.

   “Maaf Yang Mulia PKB, salah ucap. Kebiasan waktu di Karangtumaritis sih,” sahut Bagong dan Gareng hampir bersamaan.

    Setelah bisa menenangkan diri, Bagong melapor, kalau di alun-alun wetan, Limbuk dengan pakaian minim, hampir telanjang, berdemo dengan cara menari bak Inul Daratista. Di belakangnya, para ibu-ibu ikut mendukung dengan membawa poster-poster besar berisi kecaman karena para petinggi Pamongpraja, tidak cepat mengusut beredarnya video porno mirip artis-artis keraton yang sudah terkenal dan diidolakan kawula muda Amarta. Mereka adalah tiga serangkai yang diduga mirip artis Arieli, Lunmeya dan Sutari.

    “Itu belum serem Pak PKB,” timpal Gareng,” di alun-alun kulon, para mahasiswa didukung para aktivis LSM demo akbar. Ribuan pendemo membakar ban gerobak sapi dan teriak-teriak, minta pihak keraton mengusut kasus Bank Centurion, kasus Markus, pelemahan Kapeka (Komisi Pemberantasan Korupsi Amarta), dan penyimpangan para oknum penegak hukum pamongpraja,” tambahnya.

     “Kami khawatir, kalau tidak segera ditangani, pendemo akan merusak segalanya. Padahal lokasi alun-alun kan di depan istana keraton. Bisa gawat,” sergah Bagong lagi.

     “Lah punggawanya pada kemana?” tanya Petruk.

    “Malah pada menoton seronoknya limbuk dan ibu-ibu yang bergeol-geol, mengundang syahwat,” jawab Gareng. E, ladalah!

      Sinigeg ganti carito. Bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelap, katon, oooooo………drodog-dog.  Singkatnya ceritera, mendengar semua hal-hal yang aktual yang belum ditangani, banyak didemo, Petruk segera turun tangan. Apalagi dia sering diejek, kurus, tinggi badannya, tapi lemah dan tidak tegas dalam mengambil keputusan. Bahkan dapat julukan “Ratu Peragu”. Jengkel juga kan? Oleh karena itu, dengan cepat dia mengambil keputusan. Mau tahu apa tindakan Ratu Petruk. Inilah solusinya.

    Dia memerintahkan Menteri Punggawa Peranan Wanita, menetapkan Limbuk menjadi “Ratu Terseksi” se Amarta Raya. Limbuk yang memang suka sensasi dan publikasi, jadi senang bukan main dan melupakan protesnya pada beredarnya video porno. Profilnya ditampilkan di semua media massa. Mungkin termasuk di Harian Semarang loh, suer….Tentu saja, seisi negeri jadi geger. Heboh, boh. Mahasiswa, pemuka agama, tokoh-tokoh masyarakat, semua pada protes.

     Berbulan-buan terjadi polemik berkepanjangan dan berlarut-larut di negeri ini. Lalu bagaimana reaksi Sang Ratu Petruk? Dia malah enak-enak santai di kaputren para selirnya. Ketika Bagong dan Gareng menyusul ke sana, buru-buru Petruk memajukan jari telunjuk di bibirnya sambil berbisik: Sssssstttt…..tenang, biasa, ilmu pengalihan perhatian. O, ladalah, dasar wayang! ***   

                                              (Catatan: Sudah dimuat di Harian Semarang.)      

               ----------------------------------------------------------------------------------------- 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar