Minggu, 19 Agustus 2012

Wayang Mbeling: SRENGENGE KEMBAR


Koleksi gambar: Moechanis Hidayat

Oleh: Ki Dalang Mbeling Anggoro Suprapto
          NEGERI Amarta yang biasanya tenang, karena negeri gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo, akhir-akhir ini malah terlanda beredarnya rumor, tentang pimpinan tertinggi mereka. Bisik-bisik dari mulut ke mulut pun menyebar. Sehingga mengganggu ketenangan kawulo alit atau rakyat di seluruh negeri.  E, ladalah, rumor apakah yang membuat resah rakyat dunia pewayangan ini?

Begini man, rumornya.Hampir setiap hari, terlihat Presiden Amarta, eh sori banyu, Raja Amarta, kluyuran di pasar-pasar tradisional.Loh, kalau blusak-blusuk di supermarket mah masih mending, karena banyak ABG ngeceng, sehingga bisa cuci mata. Ini di pasar-pasar tradisional seperti pasar Johar yang padat  pengunjung, mau apa?

Meskipun Sang Raja, Prabu Yudistira, terkenal orang yang dekat dengan rakyat, tetap saja menimbulkan rerasan. Masak Amarta Satu blusukan di pasar tanpa dikawal Pamparaja (pasukan pengamanan raja). Paling tidak, kunjungan orang penting, harus memberitahu para pimpinan lokal,sehingga ada penyambutan. Kalau tidak sempat memberitahu gubernur atau walikota, paling tidak ya memberitahu Pak Haji Suwanto, selaku Ketua PPJP (Persatuan Pedagang Jasa Pasar). Ini kok aneh. Semuanya dilakukan dengan senyap.Edan.

Namun tidak demikian halnya dari kalangan juruwarto atau pers. Kejadian itu jelas bernilai berita tinggi. Wong adipati naik sepeda aja jadi berita, apalagi ini orang nomor satu di negeri ini, sendirian, keluar masuk pasar lagi. Jelas, jadi konsumsi berita empuk, termasuk kalangan infotaitment. Sementara itu, semua Pimpinan Redaksi media massa yang ada, segera menugaskan wartawan atau juruwarto-nya.Termasuk Pimpred Harta (Harian Amarta) yang bersemboyan “Amarta Banget”, yaitu Raden Werkudoro yang orangnya tinggi besar dan gagah.

“Radenmas Iriantoko, tolong ditugaskan raden Andik Wijokangko untuk meliputnya,” tutur Werkudoro yang juga disebut Bimoseno,kepada salah satu pengageng kerajaan.

“Loh Bos, Andik kan bagian meliput prayis dan sorodadu?” jawab Raden Iriantoko yang biasa dipanggil Mas Ir, selaku Korlip atau koordinator liputan Harian Amarta.

“Apa itu prayis dan sorodadu?”

“Loh, itu kepolisian dan tentara,”  jawab Raden Iriantoko, terpaksa menggunakan bahasa zaman sekarang.

“Kalau Radenmas Ichwanul Sembiring gimana?”

“Dia kan bagian rubrik Romantika?”

“Ya udah tugaskan juruwarto bidang ekonomi saja, karena menyangkut urusan pasar. Nanti dipesan, dalam menulis berita agar ditambahi kata mirip. Jadi seseorang yang mirip Prabu Yudistira, supaya tidak kena masalah. Di negeri ini, sedang musim kata mirip. Mirip si A, mirip si Anu, dan lain-lain,” kata Raden Werkudoro yang buru-buru pergi untuk bermain badminton, yang memang menjadi hobi beliau.

             * * * *

           Sinigeg ganti carito. Di Pasewakan Agung kerajaan Amarta sedang dilangsungkan pertemuan tertutup. Intinya membahas, adanya Prabu Yudistira yang keluar masuk pasar tradisional. Yudistira sendiri yang memimpin pertemuan, mengaku heran. Sebab dia tidak pernah keluar dari istana, karena sedang nglakoni pati geni, selama 40 hari 40 malam, ngendon di istana terus. Lah kok sekarang banyak yang melihat seseorang mirip dirinya,  keluar masuk pasar.

            “Weladalah, gimana ini adik-adikku, kok muncul lelakon srengenge kembar, atau matahari kembar, yaitu ada dua raja di negeri ini. Siapa itu yang bertindak mirip dengan diriku. Rakyat kan bisa jadi bingung, gawat nih….,” kata Sang Prabu lirih.

            Memang negeri ini menganut system perpolitikan “klan”. Kekuasaan diwariskan dari ayahnya, dan para pembesar kerajaan pun terdiri dari para saudara-saudaranya sendiri, seperti Arjuna, Nakula, Sahadewa, adik-adik sang prabu. Rapat tertutup itu juga dihadiri Kresna, Gatutkaca,Wisanggeni,  Abimanyu, dan kerabat yang lain.Tak ketinggalan para abdi dalem Petruk, Bagong dan Gareng. Hanya Raden Werkudoro yang absent, karena sedang olah raga badminton.

            Singkat ceritera, Kresna yang juga selaku penasehat sang prabu langsung tanggap ing sasmito. Dia berdiri dan berkata lantang, tegas, teges, tangkas, memerintahkan Kepala Badan Intelejen Negeri (BIN), yaitu Raden Gatutkaca, untuk segera menangkap seseorang yang mirip raja. Kalau masyarakat tahu ada srengenge kembar, yaitu ada dua raja, bisa berabe. Berarti ada dua kekuasaan. Jelas negara bisa kacau dan diam-diam situasi negeri dianggap gawat keliwat-liwat. Levelnya langsung siaga satu.
           
Kalau pers menganggap yang keluar masuk pasar itu, betul-betul sang prabu, ya biar saja. Sekarang kan musim “ilmu pembiaran”, jadi ya didiamkan saja, supaya situasi terkendali. Oleh karena itu, Kresna menyarankan sang prabu agar tetap ngendon di istana saja, sampai Gatutkaca menyelesaikan masalah, tanpa menimbulkan masalah. Biar opini public terbentuk, bahwa yang keluar masuk pasar itu adalah dirinya yang asli. Semua yang hadir harus bisa tutup mulut dan jangan sampai bocor.

“Kalau sampai bocor keluar, kalian para pembesar istana Amarta, terpaksa kami beri raport merah,” ancam Prabu Yudistira pada semua yang hadir. Setelah semua sepakat, pasewakan pun bubaran. Back ground musik, karena wayang, tetap gamelan dengan gendhing, Sampak Manyuro

                                                     * * * * *

Saat itu musim kemarau. Angin pun bertiup semilir. Daun-daun jati kering berjatuhan satu persatu, menjadikan suasana Negeri Amarta ngelangut. Apalagi kalau malam tiba. Udara dingin menggigilkan tulang. Suara lolongan anjing, membuat bulu kuduk berdiri. Namun hati jadi tenang manakala mendengar dari beberapa rumah penduduk terdengar tembang Kidung, yang dinyanyikan dengan cengkok Dandanggulo.

Ono kidung rumekso ing wengi……(dst). Jin setan datan purun…..,(dst),” suara serak Kang Petruk dari dalam rumahnya di Randugarut, Mangkang Wetan,menyeruak keheningan tengah malam, membuat penduduk jadi tenang. Jadi, meski Negara dinyatakan gawat karena ada penyusup, yang belum jelas tujuannya, rakyat tetap tenang. Lanjut, Man.

Sementara itu, Raden Gatutkaca selaku Kepala BIN, cepat bergerak. Karena dia bisa terbang, maka cepat sekali bisa mencium keberadaan orang yang mirip Prabu Yudistira. Jangan tanya, kok langsung tahu keberadaan orang yang dicurigai? Kan intel…Orangnya masih enak-enakan tidur di pasar Johar, mungkin kelelahan. Satpam pasar tidak berani membangunkan, karena mengira dia memang Yudistira beneran.

Tanpa pikir panjang, Yudistira daden-daden itupun disawut, dibawa terbang ke istana. Biar tetap tidur pulas, Gatutkaca mengerahkan ajian sirep Narantaka, sehingga orang yang dipanggul di pundaknya tetap nyenyak.

Di istana, semua telah berkumpul di balai pasewakan. Yudistira palsu, langsung dibaringkan di depan Prabu Yudistira, yang keheran-heranan, karena sosok di depannya, kok bisa persis dengan dirinya. Semua yang hadir pun heran, dan juga tidak bisa membedakan mana yang asli atau palsu. Ki dalang pun kalau tidak teliti yang bingung loh.

Sebentar kemudian, Yudistira palsu bangun. Berkali-kali dia mengucapkan kata-kata: pedagang…pedagang,..pasar…pasar…..,sepertinya belum sadar  betul dari tidurnya. Namun mendadak, dia berdiri tegak di depan Yudistira asli. Dua symbol matahari Amarta itu berhadap-hadapan.
  
“Apa maskud kisanak, menyaru menjadi diriku dan keluar masuk pasar? Perbuatan Anda itu sudah masuk ranah hukum pidana dan bahkan lebih gawat lagi, bisa dikatakan perbuatan makar. Kudeta. Bisa dijatuhi hukuman mati, ” tutur sang prabu lirih, tetapi jelas ada muatan ancaman di dalamnya.

“Begini sang prabu yang bijaksana,” sahut Yudistira palsu dengan tenang. Lalu dia mengisahkan, bahwa Raja Amarta yang terkenal agung dan bijaksana itu sudah melupakan penderitaan rakyatnya. Rakyat sekarang ini boleh dikatakan, hidup dalam penjajahan Negara. Lapangan kerja sulit, pendidikan mahal, pajak mencekik leher dan terus dinaikkan dari tahun ketahun, seperti pajak bumi dan bangunan (PBB). Buat KTP/KK bayar dan dinaikkan juga. Kalau terlambat didenda. Wah,wah. Lalu, kemiskinan dan pengangguran juga semakin merajalela.

Tetapi Negara tidak malah membela, malah lebih menyengsarakan lagi dengan menaikkan tarif dasar teplok (TDP), mencabut subsidi lengo potro, dan tindakan lain yang tidak pro rakyat. Akibatnya, kebutuhan pokok rakyat setiap hari terus naik, membubung tinggi, dan tidak terkejar dengan gaji rakyat yang tidak pernah naik. “O, dewa bathara, hal semacam ini akan berlangsung sampai kapan? Duh jagad-dewo, kok hati sampeyan selaku Raja yang harus melindungi rakyatnya tidak terketuk sedikit pun.” kata Yudistiro palsu sambil menitikkan air mata.

“Anda kok tega sekali dengan kawulo cilik yang hidupnya sekarang ini nelongso.Oleh karena itu, saya meniru Bung Karno, diam-diam blusukan pasar, mengecek langsung keluhan para pedagang dan naiknya harga-harga yang tidak terkendali,” katanya lagi sambil menangis sesenggukan karena terharu dengan penderitaan rakyat. Loh, kok nama Bung Karno disebut. Nggak apa-apa, memang wayang hidup di sepanjang zaman. Pemimpin yang sejati macm Bung Karno, memang diam-diam sering menyamar di tengah rakyatnya untuk mengecek langsung kesulitan mereka dan memperbaikinya.

Selesai meleh-melehke Yudistira asli, sang prabu yang palsu tiba-tiba saja kejang-kejang menahan haru yang teramat sangat karena memikirkan penderitaan rakyat. Saking tidak kuatnya, langsung ambruk pingsan. Tubuhnya mengeluarkan sinar warna-warni dan klang….langsung berubah jadi Semar. Pantesan, di pasewakan agung, Semar tidak pernah kelihatan.

Mengetahui Yudistiro palsu salin rupa jadi Semar, Sang Prabu Yudistira pun buru-buru memeluknya dengan erat pada Sang Pamomong Pandawa tersebut.Semua yang hadir jadi trenyuh. Sadarlah sang prabu bahwa selama ini telah melupakan rakyatnya yang dilanda kesulitan dan kesengsaraan hebat. Dia berjanji dalam hati, akan segera menyejahterkanan rakyat negeri Amarta, biar jadi gemah ripah, loh jinawi, adil makmur seperti yang dicita-citakan Negara.  

Bagong dan Petruk yang sejak tadi menyaksikan semua kejadian dengan bengong, langsung menghidupkan home theatre yang ada di ruangan itu, karena lelakonnya happy ending. Kalau para artis nusantara punya acara: “Mendadak Dangdut”, maka semua yang hadir di istana menjadi “Mendadak Tayuban”. Para gadis dayang-dayang langsung berdiri ikut menari hot, dengan iriangan gendhing Godril Semarangan. Ngibing terus, sampai pagi, sampai tua, teriak Bagong. Hahaha….

                                                                                                               Semarang, 16 Juli 2010.
 

                                     (Sudah dipublikasikan di Harian Semarang)


                 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Rabu, 25 Juli 2012

Wayang Mbeling: PETRUK JADI RATU

http://www.tokohwayangpurwo.blogspot.com 
Oleh: Ki Dalang Mbeling, Anggoro Suprapto 


     Kocap Kacarito, wolak waliking  zaman pun terjadi. Petruk yang tidak pernah diperhitungkan dalam jagad perpolitikan pewayangan tiba-tiba saja melejit namanya, dalam pemilihan secara langsung oleh rakyat negeri Amarta, ia ditetapkan menjadi Ratu. Istilah yang pas sih sebetulnya Petruk jadi Raja. Karena sebutan Ratu kan untuk kaum Hawa. Tetapi dasar Petruk terkenal keras kepala, diam-diam suka mengamandemen Undang-undang Negara, tentu saja lewat keputusan DPRA, Dewan Perwakilan Rakyat Amarta. Karena zaman kerajaan, intervensi Ratu ke DPRA sudah hal yang lumrah.
 
    Maka sejak dia terpilih dengan suara bulat, meski dia lelaki tetap minta disebut sebagai Ratu. Walau menuai banyak protes, dia cuek saja. “Memangnya gue pikirin,” begitu selalu komentarnya. Dengan terpilihnya Petruk menjadi “Amarta Satu”, sebenarnya mengundang keheranan banyak pihak. Soalnya, Petruk ini kan rakyat jelata. Boleh dikatakan, kaum pidak pendarakan, yaitu golongan grass-root (akar rumput). Kalau rumput aja masih mending. Dia ini malah lebih dalam lagi, di akarnya. Kok bisa jadi. Aneh kan? Mengalahkan para kaum bangsawan berdarah biru yang jelas-jelas baik popularitas maupun dananya cukup kuat.

     Bayangkan, masak Yudistira, Arjuna, Kresna  yang foto dan namanya selalu menjadi head line media massa, bisa dengan mudah dikalahkan. Melihat ketidakwajaran tersebut, maka Lembaga Survey Amarta pun mengadakan riset. Hasilnya? Salah satu unsur kemenangan mutlak Petruk karena didukung oleh PDA, yaitu Partai Demokrat Amarta. Partai yang sekarang ini sedang naik daun, di negeri ini. Ada lagi unsur yang lain, yang tidak dimiliki oleh kandidat lain, yaitu, diam-diam Petruk bisa merebut pusaka yang bernama Jamus Kalimasada.

   Dengan pusaka tersebut di tangan Petruk, maka mendadak dia jadi sakti mandraguna. Seperti tersihir, raykat, ABRI, Kepolisian Amarta, Kejaksaan, Kehakiman, semua mendukung dia. Disamping itu, ketika Jamus Kalimasada dibuka, isinya menganjurkan, kalau mau menang dalam pemilihan, harus berani main politik uang. Wah. Dasar Petruk, yang biasa ugal-ugalan dalam hidupnya, petunjuk itupun dilaksanakan dengan diam-diam. Tim suksesnya sudah diberi instruksi, harus bisa melaksanakan dengan aman.

    Pendek kata, dengan berbagai cara, baik legal maupun illegal, akhirnya Petruk berhasil menang mutlak. Beberapa bulan kemudian, dia pun ditetapkan sebagai raja…eh ratu. Hidupnya pun langsung terangkat. Semula, sebelum menjadi ratu, dia hidup bersama ayahnya Semar, yang menjadi lurah di Dusun Karangtumaritis. Nah, karena strata hidup naik dratis, dia pun pindah tempat. Bukan ke istana keratuan, tetapi malah memilih tinggal di rumah barunya di Perumahan Brangsong Indah, di daerah Kendal. Pinggiran kota Amarta. Alasannya hawanya sejuk dan nyaman.Seratus hari pemerintahannya, dia memang banyak dipuji-puji pers. Sebagai ratu yang merakyat. Maklum, kan latar belakangnya dari rakyat jelata, jadi tahu betul kebutuhan kawulo cilik.

     Begitulah, lelakon Petruk yang spektakuler. Tahun demi tahun pun terlampui. Tak terasa, ketika 5 tahun kemudian masa jabatannya habis, dia bisa terpilih kembali. Berarti dua periode dia menjabat sebagai ratu, di negeri yang mengagungkan demokrasi ini. Tentu saja, system demokrasi terpimpin, karena dipimpin Ratu Petruk yang sekarang bergelar, Petruk Kanthong Bolong, atau biasa dipanggil PKB.  Kan sekarang musim menyingkat nama, untuk para pejabat negara.

  Tetapi yang namanya lelakon, apalagi lelakon wayang, selalu ada saja goro-goro dalam pemerintahannya. Memang sebelum jadi ratu, setiap munculnya para punokawan, termasuk Petruk yang juga selalu ada di dalamnya, pasti muncul goro-goro. Meski sekarang sudah jadi orang pertama di negeri ini goro-goro itu tidak dapat dihindari.

   Pada suatu pagi yang cerah, ketika Petruk alias PKB sedang main golf bersama tamu dari negara tanah sabrang, angin pun bertiup kencang. Langit yang semula cerah mendadak mendung. E, ladalah. Hong wilaheng sekaring bawono langgeng, lae, lae…..Goro-goro pun muncul. Datanglah dari kejauhan Gareng dan Bagong, dua adik sang Ratu, yang memang diangkat sebagai penasihat istana dan sekaligus juga sebagai juru bicara keratuan, kalau zaman sekarang sih keprisidenan.

    “Blaik Kang Petruk…!” sergah Bagong adik bungsunya sambil ngos-ngosan, disusul Gareng di belakangnya.

   “Sik to sareh, ada apa? Ini di depan para pengawal dan tamu Negara mbok jangan memanggil Kang. Ndeso tenan kowe kuwi,” bentak Petruk.

   “Maaf Yang Mulia PKB, salah ucap. Kebiasan waktu di Karangtumaritis sih,” sahut Bagong dan Gareng hampir bersamaan.

    Setelah bisa menenangkan diri, Bagong melapor, kalau di alun-alun wetan, Limbuk dengan pakaian minim, hampir telanjang, berdemo dengan cara menari bak Inul Daratista. Di belakangnya, para ibu-ibu ikut mendukung dengan membawa poster-poster besar berisi kecaman karena para petinggi Pamongpraja, tidak cepat mengusut beredarnya video porno mirip artis-artis keraton yang sudah terkenal dan diidolakan kawula muda Amarta. Mereka adalah tiga serangkai yang diduga mirip artis Arieli, Lunmeya dan Sutari.

    “Itu belum serem Pak PKB,” timpal Gareng,” di alun-alun kulon, para mahasiswa didukung para aktivis LSM demo akbar. Ribuan pendemo membakar ban gerobak sapi dan teriak-teriak, minta pihak keraton mengusut kasus Bank Centurion, kasus Markus, pelemahan Kapeka (Komisi Pemberantasan Korupsi Amarta), dan penyimpangan para oknum penegak hukum pamongpraja,” tambahnya.

     “Kami khawatir, kalau tidak segera ditangani, pendemo akan merusak segalanya. Padahal lokasi alun-alun kan di depan istana keraton. Bisa gawat,” sergah Bagong lagi.

     “Lah punggawanya pada kemana?” tanya Petruk.

    “Malah pada menoton seronoknya limbuk dan ibu-ibu yang bergeol-geol, mengundang syahwat,” jawab Gareng. E, ladalah!

      Sinigeg ganti carito. Bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelap, katon, oooooo………drodog-dog.  Singkatnya ceritera, mendengar semua hal-hal yang aktual yang belum ditangani, banyak didemo, Petruk segera turun tangan. Apalagi dia sering diejek, kurus, tinggi badannya, tapi lemah dan tidak tegas dalam mengambil keputusan. Bahkan dapat julukan “Ratu Peragu”. Jengkel juga kan? Oleh karena itu, dengan cepat dia mengambil keputusan. Mau tahu apa tindakan Ratu Petruk. Inilah solusinya.

    Dia memerintahkan Menteri Punggawa Peranan Wanita, menetapkan Limbuk menjadi “Ratu Terseksi” se Amarta Raya. Limbuk yang memang suka sensasi dan publikasi, jadi senang bukan main dan melupakan protesnya pada beredarnya video porno. Profilnya ditampilkan di semua media massa. Mungkin termasuk di Harian Semarang loh, suer….Tentu saja, seisi negeri jadi geger. Heboh, boh. Mahasiswa, pemuka agama, tokoh-tokoh masyarakat, semua pada protes.

     Berbulan-buan terjadi polemik berkepanjangan dan berlarut-larut di negeri ini. Lalu bagaimana reaksi Sang Ratu Petruk? Dia malah enak-enak santai di kaputren para selirnya. Ketika Bagong dan Gareng menyusul ke sana, buru-buru Petruk memajukan jari telunjuk di bibirnya sambil berbisik: Sssssstttt…..tenang, biasa, ilmu pengalihan perhatian. O, ladalah, dasar wayang! ***   

                                              (Catatan: Sudah dimuat di Harian Semarang.)      

               ----------------------------------------------------------------------------------------- 



Senin, 09 Juli 2012

SAJAK-SAJAK DI PERJALANAN

http://www.pendoasion.wordpress.com

PENGANTAR: Selalu, dalam perjalanan ke lain kota, dengan Bus Patas ber-AC, ada kegiatan tersendiri. Kalau tidak tidur, ya membaca apa saja. Bisa buku, majalah atau surat kabar. Jika bosan, maka mulailah tangan ini mengetik di BB yang selalu setia menemaniku. Biasanya membuat sajak. Setelah berkali-kali perjalanan yang aku lupa jumlahnya, lupa tujuannya, lupa hari, tanggal dan tahunnya, maka inilah sejumlah "sajak perjalanan" itu. Juga lupa urutannya, karena begitu jadi kulempar saja sebagai komen di FB dan kembali kupunguti setelah sekian lama berserak.



PERJALANAN SATU


INGIN SEPERTI BAYANGAN
Aku hanya ingin seperti bayangan
Melintas diam tengah malam
Saat semua orang terlelap dalam genggaman sang ratu malam
Mimpi indah berkepanjangan, bersama dingin memabukkan
Hanya engkau yang masih terjaga kekasihku
Terhanyut dalam shalat tahajud sampai larut malam
Mengaji dan melafalkan wiridan
Meleleh air matamu melantunkan doa-doa keselamatan
bagi keluarga, sahabat, dan entah sesiapa yang kamu sebut pelan


AKU HARUS PULANG
Aku harus pulang. Kenapa tergesa-gesa? katamu.
Bukankah di luar sana gelap, angin kencang, dan dingin menusuk-nusuk tulang?
Iya, tetapi lelaki sejati harus menepati janji. Mereka semua menungguku untuk kembali.
Tidakkah kau lihat mripat mereka berkilatan penuh harap? Menunggu tanpa berucap.
Mereka akan selalu berkata: Papa, kenapa pergi terlalu lama?
Semua terdiam. Udara membeku menghentikan pikiran.
Kalau begitu pakailah jaketmu, katamu gelisah.
Ragamu sudah tua dan ringkih. Tidak tahan angin dan tidak tahan goncangan.
Kau bisa terpuruk di jalan. Menadah langit meminta hujan.
"Berangkalah kekasihku, ah terlalu banyak yang menunggumu..."


NEGERI BANYAK BICARA
Aku melihat Negeri yang banyak bicara.
Apa saja dibicarakan, sampai bibir melepuh mulut berbusa.
Media TV mendiskusikan apa saja, kapan saja, topik apa saja.
Para pakar bicara, dewan bicara, pemimpin bicara.
Tuhan, bolehkah aku memohon sedikit saja?
Dua telinga tidak cukup untuk mendengarkan. Sungguh.
Siapa nanti yang akan mendengarkan suara rakyatmu?


YOGYA DIKEPUNG HUJAN ABU
Yogya, meski kabut menyelimuti tubuhmu, dan hujan abu selalu mengepung dirimu, Tegarlah.
Sungguh. Sudah jutaan doa dan puisi dihaturkan untukmu.
Jutaan keprihatinan, jutaan desah, jutaan gumam.
Tabahlah, wahai tlatah wingit, tempat Sultan berada.
Kipatkan sengkolo, buka kesaktianmu, lingdungi wargamu.
Soalnya, para keluargaku, para sahabatku, ada di rahimmu.
Yogya, jangan kecewakan aku. Kalau tidak, kutinju mripatmu.


KUSAPA DUNIA
Kusapa dunia.Kusapa sahabat-sahabatku.
Sudah berubahkah semuanya? Sudah berubahkah diriku?
Kadang kuingin kembali kemasa kanak-kanak.Penuh keceriaan dan tiada beban.
Gusti Allah, bisakah aku salin rupa? Serupa angin yang bertiup kencang menusuk bumi.
Serupa ombak yang bergelora tiada henti.Serupa semasih muda semasih penuh pusaran energi.


GUSTI MENJAWABLAH
Siang ini, aku harus menyeru padaMu. Kenapa berabad-abad lamanya kau selalu terdiam?
Sejak sebelum Musa melintasi bukit Sinai. Kenapa Kamu selalu membisu meski tidak bisu?
Selalu memberi tetapi tidak meminta. Selalu mengampuni meski mereka pendusta.
Gusti, menjawablah. Lihatlah, para pemimpin negeriku begitu jumawa.
Karena Engkau diam, sepertinya mereka tidak takut dosa.
Mengacuhkan rakyat memperbanyak khianat. Korupsi merajalela di mana-mana.
Negeri siapakah ini? Mungkinkah seperti Sodom dan Gomorah?
Gusti, bolehkah aku memintakan ampunan bagi mereka?
Menjawablah Gusti, sebelum semuanya terlambat. Sebelum semuanya telat.

--------------------------






Minggu, 17 Oktober 2010

Tips Sederhana: BELAJAR MENULIS


http://www.gita-didyouknow.blogspot.com


Seringkali orang berpikir: “Kok bisa ya orang-orang itu menulis sebuah buku, novel, artikel dan lain sebagainya”. Dapat idenya dari mana sih? Terus harus memulai menulisnya dari mana juga? Akhirnya setelah mencoba mengintip kesana dan kesini, ada beberapa tips yang dirasa cukup bagus bagi seorang pemula untuk memulai memberanikan diri untuk menulis. Berikut langkah-langkah yang bisa kita lakukan dalam proses menulis:

1.Buat Rencana
Sebelum memulai suatu tulisan, pastikan anda sudah mempunyai ide mengenai subjek ataupun hal apa yang akan anda tulis. Buatlah garis besar tulisan anda, bisa dalam bentuk daftar isi yang memuat keseluruhan isi dari tulisan yang akan anda tulis. Kemudian kalau perlu buatlah juga jadwal untuk menulis dan deadline tulisan anda. Tujuannya, untuk lebih menambah semangat anda untuk menyelesaikan tulisan yang sudah anda mulai.

2.Pikirkan dan Cari Referensi
Luangkan waktu untuk berfikir, mengobservasi dan mencari referensi yang cukup sehingga anda benar-benar memahami apa yang anda tulis, dan bisa meyakinkan para pembaca mengenai hal yang anda tulis, sebelum anda mulai menulis.

3.Tuangkan dalam Tulisan
Ketika anda sudah siap dengan ide dan garis besarnya, maka mulailah tuangkan hal tersebut kedalam tulisan. Mulailah duduk didepan komputer anda dan menuangkan semua ide dan imaginasi anda ke dalamnya. Biarkan semua ide itu berkembang, tak perlu dulu memperhatikan pemilihan kata yang tepat atau tidak.

4.Baca Kembali
Jika sudah selesai dengan tulisan anda, cobalah untuk membaca kembali dari awal hingga akhir. Jika ada kata-kata yang kurang tepat, di sinilah waktunya untuk memperbaiki susunan, struktur dan alur tulisan anda. Jika masih kurang puas juga dengan tulisan anda, dan anda sudah merasa lelah...Beristirahatlah. Tenangkan pikiran anda, dan jika sudah merasa segar kembali dan bisa berpikir dengan jernih, maka cobalah lagi untuk membaca dari awal dan lihatlah dengan lebih detail tulisan yang sudah anda buat. Perbaiki ejaan, tanda baca dan tata bahasa yang salah. Anda bisa menggunakan kamus, ensiklopedi ataupun alat bantu lainnya untuk memperbaiki tulisan anda sehingga menjadi lebih baik. Baca, edit dan ulangi seperlunya.

5.Berikan pada Orang Lain
Setelah yakin dengan tulisan anda, bisa anda berikan kepada orang-orang di sekitar anda yang bisa anda percaya, untuk memberikan penilaian dan perbaikan terhadap hal yang sudah anda tulis. Terbukalah untuk saran-saran demi perbaikan tulisan anda.
(Sumbangan: Moechanis Hidayat).
                                                 ------------------------------------------------------

Kamis, 14 Oktober 2010

Info Buku: ANGGORO SUPRAPTO



Judul Buku: Hidup Sehat Cara Vegetarian
Harga: Rp. 35.000,-
Pengarang: Anggoro Suprapto
Penerbit: Elex Media Komputindo
(Group Kompas - Gramedia)