Minggu, 19 Agustus 2012

Wayang Mbeling: SRENGENGE KEMBAR


Koleksi gambar: Moechanis Hidayat

Oleh: Ki Dalang Mbeling Anggoro Suprapto
          NEGERI Amarta yang biasanya tenang, karena negeri gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo, akhir-akhir ini malah terlanda beredarnya rumor, tentang pimpinan tertinggi mereka. Bisik-bisik dari mulut ke mulut pun menyebar. Sehingga mengganggu ketenangan kawulo alit atau rakyat di seluruh negeri.  E, ladalah, rumor apakah yang membuat resah rakyat dunia pewayangan ini?

Begini man, rumornya.Hampir setiap hari, terlihat Presiden Amarta, eh sori banyu, Raja Amarta, kluyuran di pasar-pasar tradisional.Loh, kalau blusak-blusuk di supermarket mah masih mending, karena banyak ABG ngeceng, sehingga bisa cuci mata. Ini di pasar-pasar tradisional seperti pasar Johar yang padat  pengunjung, mau apa?

Meskipun Sang Raja, Prabu Yudistira, terkenal orang yang dekat dengan rakyat, tetap saja menimbulkan rerasan. Masak Amarta Satu blusukan di pasar tanpa dikawal Pamparaja (pasukan pengamanan raja). Paling tidak, kunjungan orang penting, harus memberitahu para pimpinan lokal,sehingga ada penyambutan. Kalau tidak sempat memberitahu gubernur atau walikota, paling tidak ya memberitahu Pak Haji Suwanto, selaku Ketua PPJP (Persatuan Pedagang Jasa Pasar). Ini kok aneh. Semuanya dilakukan dengan senyap.Edan.

Namun tidak demikian halnya dari kalangan juruwarto atau pers. Kejadian itu jelas bernilai berita tinggi. Wong adipati naik sepeda aja jadi berita, apalagi ini orang nomor satu di negeri ini, sendirian, keluar masuk pasar lagi. Jelas, jadi konsumsi berita empuk, termasuk kalangan infotaitment. Sementara itu, semua Pimpinan Redaksi media massa yang ada, segera menugaskan wartawan atau juruwarto-nya.Termasuk Pimpred Harta (Harian Amarta) yang bersemboyan “Amarta Banget”, yaitu Raden Werkudoro yang orangnya tinggi besar dan gagah.

“Radenmas Iriantoko, tolong ditugaskan raden Andik Wijokangko untuk meliputnya,” tutur Werkudoro yang juga disebut Bimoseno,kepada salah satu pengageng kerajaan.

“Loh Bos, Andik kan bagian meliput prayis dan sorodadu?” jawab Raden Iriantoko yang biasa dipanggil Mas Ir, selaku Korlip atau koordinator liputan Harian Amarta.

“Apa itu prayis dan sorodadu?”

“Loh, itu kepolisian dan tentara,”  jawab Raden Iriantoko, terpaksa menggunakan bahasa zaman sekarang.

“Kalau Radenmas Ichwanul Sembiring gimana?”

“Dia kan bagian rubrik Romantika?”

“Ya udah tugaskan juruwarto bidang ekonomi saja, karena menyangkut urusan pasar. Nanti dipesan, dalam menulis berita agar ditambahi kata mirip. Jadi seseorang yang mirip Prabu Yudistira, supaya tidak kena masalah. Di negeri ini, sedang musim kata mirip. Mirip si A, mirip si Anu, dan lain-lain,” kata Raden Werkudoro yang buru-buru pergi untuk bermain badminton, yang memang menjadi hobi beliau.

             * * * *

           Sinigeg ganti carito. Di Pasewakan Agung kerajaan Amarta sedang dilangsungkan pertemuan tertutup. Intinya membahas, adanya Prabu Yudistira yang keluar masuk pasar tradisional. Yudistira sendiri yang memimpin pertemuan, mengaku heran. Sebab dia tidak pernah keluar dari istana, karena sedang nglakoni pati geni, selama 40 hari 40 malam, ngendon di istana terus. Lah kok sekarang banyak yang melihat seseorang mirip dirinya,  keluar masuk pasar.

            “Weladalah, gimana ini adik-adikku, kok muncul lelakon srengenge kembar, atau matahari kembar, yaitu ada dua raja di negeri ini. Siapa itu yang bertindak mirip dengan diriku. Rakyat kan bisa jadi bingung, gawat nih….,” kata Sang Prabu lirih.

            Memang negeri ini menganut system perpolitikan “klan”. Kekuasaan diwariskan dari ayahnya, dan para pembesar kerajaan pun terdiri dari para saudara-saudaranya sendiri, seperti Arjuna, Nakula, Sahadewa, adik-adik sang prabu. Rapat tertutup itu juga dihadiri Kresna, Gatutkaca,Wisanggeni,  Abimanyu, dan kerabat yang lain.Tak ketinggalan para abdi dalem Petruk, Bagong dan Gareng. Hanya Raden Werkudoro yang absent, karena sedang olah raga badminton.

            Singkat ceritera, Kresna yang juga selaku penasehat sang prabu langsung tanggap ing sasmito. Dia berdiri dan berkata lantang, tegas, teges, tangkas, memerintahkan Kepala Badan Intelejen Negeri (BIN), yaitu Raden Gatutkaca, untuk segera menangkap seseorang yang mirip raja. Kalau masyarakat tahu ada srengenge kembar, yaitu ada dua raja, bisa berabe. Berarti ada dua kekuasaan. Jelas negara bisa kacau dan diam-diam situasi negeri dianggap gawat keliwat-liwat. Levelnya langsung siaga satu.
           
Kalau pers menganggap yang keluar masuk pasar itu, betul-betul sang prabu, ya biar saja. Sekarang kan musim “ilmu pembiaran”, jadi ya didiamkan saja, supaya situasi terkendali. Oleh karena itu, Kresna menyarankan sang prabu agar tetap ngendon di istana saja, sampai Gatutkaca menyelesaikan masalah, tanpa menimbulkan masalah. Biar opini public terbentuk, bahwa yang keluar masuk pasar itu adalah dirinya yang asli. Semua yang hadir harus bisa tutup mulut dan jangan sampai bocor.

“Kalau sampai bocor keluar, kalian para pembesar istana Amarta, terpaksa kami beri raport merah,” ancam Prabu Yudistira pada semua yang hadir. Setelah semua sepakat, pasewakan pun bubaran. Back ground musik, karena wayang, tetap gamelan dengan gendhing, Sampak Manyuro

                                                     * * * * *

Saat itu musim kemarau. Angin pun bertiup semilir. Daun-daun jati kering berjatuhan satu persatu, menjadikan suasana Negeri Amarta ngelangut. Apalagi kalau malam tiba. Udara dingin menggigilkan tulang. Suara lolongan anjing, membuat bulu kuduk berdiri. Namun hati jadi tenang manakala mendengar dari beberapa rumah penduduk terdengar tembang Kidung, yang dinyanyikan dengan cengkok Dandanggulo.

Ono kidung rumekso ing wengi……(dst). Jin setan datan purun…..,(dst),” suara serak Kang Petruk dari dalam rumahnya di Randugarut, Mangkang Wetan,menyeruak keheningan tengah malam, membuat penduduk jadi tenang. Jadi, meski Negara dinyatakan gawat karena ada penyusup, yang belum jelas tujuannya, rakyat tetap tenang. Lanjut, Man.

Sementara itu, Raden Gatutkaca selaku Kepala BIN, cepat bergerak. Karena dia bisa terbang, maka cepat sekali bisa mencium keberadaan orang yang mirip Prabu Yudistira. Jangan tanya, kok langsung tahu keberadaan orang yang dicurigai? Kan intel…Orangnya masih enak-enakan tidur di pasar Johar, mungkin kelelahan. Satpam pasar tidak berani membangunkan, karena mengira dia memang Yudistira beneran.

Tanpa pikir panjang, Yudistira daden-daden itupun disawut, dibawa terbang ke istana. Biar tetap tidur pulas, Gatutkaca mengerahkan ajian sirep Narantaka, sehingga orang yang dipanggul di pundaknya tetap nyenyak.

Di istana, semua telah berkumpul di balai pasewakan. Yudistira palsu, langsung dibaringkan di depan Prabu Yudistira, yang keheran-heranan, karena sosok di depannya, kok bisa persis dengan dirinya. Semua yang hadir pun heran, dan juga tidak bisa membedakan mana yang asli atau palsu. Ki dalang pun kalau tidak teliti yang bingung loh.

Sebentar kemudian, Yudistira palsu bangun. Berkali-kali dia mengucapkan kata-kata: pedagang…pedagang,..pasar…pasar…..,sepertinya belum sadar  betul dari tidurnya. Namun mendadak, dia berdiri tegak di depan Yudistira asli. Dua symbol matahari Amarta itu berhadap-hadapan.
  
“Apa maskud kisanak, menyaru menjadi diriku dan keluar masuk pasar? Perbuatan Anda itu sudah masuk ranah hukum pidana dan bahkan lebih gawat lagi, bisa dikatakan perbuatan makar. Kudeta. Bisa dijatuhi hukuman mati, ” tutur sang prabu lirih, tetapi jelas ada muatan ancaman di dalamnya.

“Begini sang prabu yang bijaksana,” sahut Yudistira palsu dengan tenang. Lalu dia mengisahkan, bahwa Raja Amarta yang terkenal agung dan bijaksana itu sudah melupakan penderitaan rakyatnya. Rakyat sekarang ini boleh dikatakan, hidup dalam penjajahan Negara. Lapangan kerja sulit, pendidikan mahal, pajak mencekik leher dan terus dinaikkan dari tahun ketahun, seperti pajak bumi dan bangunan (PBB). Buat KTP/KK bayar dan dinaikkan juga. Kalau terlambat didenda. Wah,wah. Lalu, kemiskinan dan pengangguran juga semakin merajalela.

Tetapi Negara tidak malah membela, malah lebih menyengsarakan lagi dengan menaikkan tarif dasar teplok (TDP), mencabut subsidi lengo potro, dan tindakan lain yang tidak pro rakyat. Akibatnya, kebutuhan pokok rakyat setiap hari terus naik, membubung tinggi, dan tidak terkejar dengan gaji rakyat yang tidak pernah naik. “O, dewa bathara, hal semacam ini akan berlangsung sampai kapan? Duh jagad-dewo, kok hati sampeyan selaku Raja yang harus melindungi rakyatnya tidak terketuk sedikit pun.” kata Yudistiro palsu sambil menitikkan air mata.

“Anda kok tega sekali dengan kawulo cilik yang hidupnya sekarang ini nelongso.Oleh karena itu, saya meniru Bung Karno, diam-diam blusukan pasar, mengecek langsung keluhan para pedagang dan naiknya harga-harga yang tidak terkendali,” katanya lagi sambil menangis sesenggukan karena terharu dengan penderitaan rakyat. Loh, kok nama Bung Karno disebut. Nggak apa-apa, memang wayang hidup di sepanjang zaman. Pemimpin yang sejati macm Bung Karno, memang diam-diam sering menyamar di tengah rakyatnya untuk mengecek langsung kesulitan mereka dan memperbaikinya.

Selesai meleh-melehke Yudistira asli, sang prabu yang palsu tiba-tiba saja kejang-kejang menahan haru yang teramat sangat karena memikirkan penderitaan rakyat. Saking tidak kuatnya, langsung ambruk pingsan. Tubuhnya mengeluarkan sinar warna-warni dan klang….langsung berubah jadi Semar. Pantesan, di pasewakan agung, Semar tidak pernah kelihatan.

Mengetahui Yudistiro palsu salin rupa jadi Semar, Sang Prabu Yudistira pun buru-buru memeluknya dengan erat pada Sang Pamomong Pandawa tersebut.Semua yang hadir jadi trenyuh. Sadarlah sang prabu bahwa selama ini telah melupakan rakyatnya yang dilanda kesulitan dan kesengsaraan hebat. Dia berjanji dalam hati, akan segera menyejahterkanan rakyat negeri Amarta, biar jadi gemah ripah, loh jinawi, adil makmur seperti yang dicita-citakan Negara.  

Bagong dan Petruk yang sejak tadi menyaksikan semua kejadian dengan bengong, langsung menghidupkan home theatre yang ada di ruangan itu, karena lelakonnya happy ending. Kalau para artis nusantara punya acara: “Mendadak Dangdut”, maka semua yang hadir di istana menjadi “Mendadak Tayuban”. Para gadis dayang-dayang langsung berdiri ikut menari hot, dengan iriangan gendhing Godril Semarangan. Ngibing terus, sampai pagi, sampai tua, teriak Bagong. Hahaha….

                                                                                                               Semarang, 16 Juli 2010.
 

                                     (Sudah dipublikasikan di Harian Semarang)


                 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar