![]() |
| Koleksi gambar: Moechanis Hidayat Oleh: Ki Dalang Mbeling Anggoro Suprapto |
NEGERI Amarta yang biasanya
tenang, karena negeri gemah ripah loh
jinawi, toto tentrem kerto raharjo, akhir-akhir ini malah terlanda
beredarnya rumor, tentang pimpinan tertinggi mereka. Bisik-bisik dari mulut ke
mulut pun menyebar. Sehingga mengganggu ketenangan kawulo alit atau rakyat di seluruh negeri. E,
ladalah, rumor apakah yang membuat resah rakyat dunia pewayangan ini?
Begini man, rumornya.Hampir setiap hari, terlihat Presiden Amarta, eh sori banyu, Raja Amarta, kluyuran di pasar-pasar tradisional.Loh, kalau blusak-blusuk di supermarket mah masih mending, karena banyak ABG ngeceng, sehingga bisa cuci mata. Ini di pasar-pasar tradisional seperti pasar Johar yang padat pengunjung, mau apa?
Meskipun
Sang Raja, Prabu Yudistira, terkenal orang yang dekat dengan rakyat, tetap saja
menimbulkan rerasan. Masak Amarta
Satu blusukan di pasar tanpa dikawal
Pamparaja (pasukan pengamanan raja). Paling tidak, kunjungan orang penting,
harus memberitahu para pimpinan lokal,sehingga ada penyambutan. Kalau tidak
sempat memberitahu gubernur atau walikota, paling tidak ya memberitahu Pak Haji
Suwanto, selaku Ketua PPJP (Persatuan Pedagang Jasa Pasar). Ini kok aneh.
Semuanya dilakukan dengan senyap.Edan.
Namun
tidak demikian halnya dari kalangan juruwarto
atau pers. Kejadian itu jelas bernilai berita tinggi. Wong adipati naik sepeda aja jadi berita, apalagi ini orang nomor
satu di negeri ini, sendirian, keluar masuk pasar lagi. Jelas, jadi konsumsi berita
empuk, termasuk kalangan infotaitment.
Sementara itu, semua Pimpinan Redaksi media massa yang ada, segera menugaskan
wartawan atau juruwarto-nya.Termasuk
Pimpred Harta (Harian Amarta) yang
bersemboyan “Amarta Banget”, yaitu Raden Werkudoro yang orangnya tinggi besar
dan gagah.
“Radenmas
Iriantoko, tolong ditugaskan raden Andik Wijokangko untuk meliputnya,” tutur
Werkudoro yang juga disebut Bimoseno,kepada salah satu pengageng kerajaan.
“Loh Bos,
Andik kan bagian meliput prayis dan sorodadu?” jawab Raden Iriantoko yang
biasa dipanggil Mas Ir, selaku Korlip atau koordinator liputan Harian Amarta.
“Apa itu prayis dan sorodadu?”
“Loh, itu
kepolisian dan tentara,” jawab Raden
Iriantoko, terpaksa menggunakan bahasa zaman sekarang.
“Kalau
Radenmas Ichwanul Sembiring gimana?”
“Dia kan
bagian rubrik Romantika?”
“Ya udah
tugaskan juruwarto bidang ekonomi
saja, karena menyangkut urusan pasar. Nanti dipesan, dalam menulis berita agar
ditambahi kata mirip. Jadi seseorang yang mirip Prabu Yudistira, supaya tidak
kena masalah. Di negeri ini, sedang musim kata mirip. Mirip si A, mirip si Anu,
dan lain-lain,” kata Raden Werkudoro yang buru-buru pergi untuk bermain badminton,
yang memang menjadi hobi beliau.
* * * *
Sinigeg
ganti carito. Di Pasewakan Agung kerajaan Amarta sedang dilangsungkan
pertemuan tertutup. Intinya membahas, adanya Prabu Yudistira yang keluar masuk
pasar tradisional. Yudistira sendiri yang memimpin pertemuan, mengaku heran.
Sebab dia tidak pernah keluar dari istana, karena sedang nglakoni pati geni, selama 40 hari 40 malam,
ngendon di istana terus. Lah kok sekarang banyak yang melihat seseorang mirip
dirinya, keluar masuk pasar.
“Weladalah,
gimana ini adik-adikku, kok muncul lelakon srengenge kembar, atau matahari
kembar, yaitu ada dua raja di negeri ini. Siapa itu yang bertindak mirip dengan
diriku. Rakyat kan bisa jadi bingung, gawat nih….,” kata Sang Prabu lirih.
Memang negeri ini menganut system
perpolitikan “klan”. Kekuasaan diwariskan dari ayahnya, dan para pembesar
kerajaan pun terdiri dari para saudara-saudaranya sendiri, seperti Arjuna,
Nakula, Sahadewa, adik-adik sang prabu. Rapat tertutup itu juga dihadiri
Kresna, Gatutkaca,Wisanggeni, Abimanyu,
dan kerabat yang lain.Tak ketinggalan para abdi
dalem Petruk, Bagong dan Gareng. Hanya Raden Werkudoro yang absent, karena
sedang olah raga badminton.
Singkat ceritera, Kresna yang juga
selaku penasehat sang prabu langsung tanggap
ing sasmito. Dia berdiri dan berkata lantang, tegas, teges, tangkas,
memerintahkan Kepala Badan Intelejen Negeri (BIN), yaitu Raden Gatutkaca, untuk
segera menangkap seseorang yang mirip raja. Kalau masyarakat tahu ada srengenge kembar, yaitu ada dua raja,
bisa berabe. Berarti ada dua kekuasaan. Jelas negara bisa kacau dan diam-diam
situasi negeri dianggap gawat
keliwat-liwat. Levelnya langsung siaga satu.
Kalau pers
menganggap yang keluar masuk pasar itu, betul-betul sang prabu, ya biar saja.
Sekarang kan musim “ilmu pembiaran”, jadi ya didiamkan saja, supaya situasi
terkendali. Oleh karena itu, Kresna menyarankan sang prabu agar tetap ngendon
di istana saja, sampai Gatutkaca menyelesaikan masalah, tanpa menimbulkan
masalah. Biar opini public terbentuk, bahwa yang keluar masuk pasar itu adalah
dirinya yang asli. Semua yang hadir harus bisa tutup mulut dan jangan sampai
bocor.
“Kalau
sampai bocor keluar, kalian para pembesar istana Amarta, terpaksa kami beri
raport merah,” ancam Prabu Yudistira pada semua yang hadir. Setelah semua
sepakat, pasewakan pun bubaran. Back ground musik, karena wayang, tetap
gamelan dengan gendhing, Sampak Manyuro.
*
* * * *
Saat itu
musim kemarau. Angin pun bertiup semilir. Daun-daun jati kering berjatuhan satu
persatu, menjadikan suasana Negeri Amarta ngelangut.
Apalagi kalau malam tiba. Udara dingin menggigilkan tulang. Suara lolongan
anjing, membuat bulu kuduk berdiri. Namun hati jadi tenang manakala mendengar
dari beberapa rumah penduduk terdengar tembang
Kidung, yang dinyanyikan dengan cengkok
Dandanggulo.
“Ono kidung rumekso ing wengi……(dst). Jin setan datan purun…..,(dst),” suara
serak Kang Petruk dari dalam rumahnya di Randugarut, Mangkang Wetan,menyeruak
keheningan tengah malam, membuat penduduk jadi tenang. Jadi, meski Negara
dinyatakan gawat karena ada penyusup, yang belum jelas tujuannya, rakyat tetap
tenang. Lanjut, Man.
Sementara
itu, Raden Gatutkaca selaku Kepala BIN, cepat bergerak. Karena dia bisa
terbang, maka cepat sekali bisa mencium keberadaan orang yang mirip Prabu
Yudistira. Jangan tanya, kok langsung tahu keberadaan orang yang dicurigai? Kan
intel…Orangnya masih enak-enakan tidur di pasar Johar, mungkin kelelahan.
Satpam pasar tidak berani membangunkan, karena mengira dia memang Yudistira
beneran.
Tanpa
pikir panjang, Yudistira daden-daden
itupun disawut, dibawa terbang ke istana. Biar tetap tidur pulas, Gatutkaca
mengerahkan ajian sirep Narantaka,
sehingga orang yang dipanggul di pundaknya tetap nyenyak.
Di istana,
semua telah berkumpul di balai pasewakan. Yudistira palsu, langsung dibaringkan
di depan Prabu Yudistira, yang keheran-heranan, karena sosok di depannya, kok
bisa persis dengan dirinya. Semua yang hadir pun heran, dan juga tidak bisa
membedakan mana yang asli atau palsu. Ki dalang pun kalau tidak teliti yang
bingung loh.
Sebentar
kemudian, Yudistira palsu bangun. Berkali-kali dia mengucapkan kata-kata:
pedagang…pedagang,..pasar…pasar…..,sepertinya belum sadar betul dari tidurnya. Namun mendadak, dia
berdiri tegak di depan Yudistira asli. Dua symbol matahari Amarta itu
berhadap-hadapan.
“Apa
maskud kisanak, menyaru menjadi diriku dan keluar masuk pasar? Perbuatan Anda
itu sudah masuk ranah hukum pidana dan bahkan lebih gawat lagi, bisa dikatakan
perbuatan makar. Kudeta. Bisa dijatuhi hukuman mati, ” tutur sang prabu lirih,
tetapi jelas ada muatan ancaman di dalamnya.
“Begini
sang prabu yang bijaksana,” sahut Yudistira palsu dengan tenang. Lalu dia
mengisahkan, bahwa Raja Amarta yang terkenal agung dan bijaksana itu sudah
melupakan penderitaan rakyatnya. Rakyat sekarang ini boleh dikatakan, hidup
dalam penjajahan Negara. Lapangan kerja sulit, pendidikan mahal, pajak mencekik
leher dan terus dinaikkan dari tahun ketahun, seperti pajak bumi dan bangunan
(PBB). Buat KTP/KK bayar dan dinaikkan juga. Kalau terlambat didenda. Wah,wah.
Lalu, kemiskinan dan pengangguran juga semakin merajalela.
Tetapi
Negara tidak malah membela, malah lebih menyengsarakan lagi dengan menaikkan
tarif dasar teplok (TDP), mencabut subsidi lengo
potro, dan tindakan lain yang tidak pro rakyat. Akibatnya, kebutuhan pokok
rakyat setiap hari terus naik, membubung tinggi, dan tidak terkejar dengan gaji
rakyat yang tidak pernah naik. “O, dewa bathara, hal semacam ini akan
berlangsung sampai kapan? Duh jagad-dewo, kok hati sampeyan selaku Raja yang
harus melindungi rakyatnya tidak terketuk sedikit pun.” kata Yudistiro palsu
sambil menitikkan air mata.
“Anda kok
tega sekali dengan kawulo cilik yang
hidupnya sekarang ini nelongso.Oleh
karena itu, saya meniru Bung Karno, diam-diam blusukan pasar, mengecek langsung
keluhan para pedagang dan naiknya harga-harga yang tidak terkendali,” katanya
lagi sambil menangis sesenggukan karena terharu dengan penderitaan rakyat. Loh,
kok nama Bung Karno disebut. Nggak apa-apa, memang wayang hidup di sepanjang
zaman. Pemimpin yang sejati macm Bung Karno, memang diam-diam sering menyamar
di tengah rakyatnya untuk mengecek langsung kesulitan mereka dan
memperbaikinya.
Selesai meleh-melehke Yudistira asli, sang prabu
yang palsu tiba-tiba saja kejang-kejang menahan haru yang teramat sangat karena
memikirkan penderitaan rakyat. Saking tidak kuatnya, langsung ambruk pingsan.
Tubuhnya mengeluarkan sinar warna-warni dan klang….langsung
berubah jadi Semar. Pantesan, di pasewakan
agung, Semar tidak pernah kelihatan.
Mengetahui
Yudistiro palsu salin rupa jadi
Semar, Sang Prabu Yudistira pun buru-buru memeluknya dengan erat pada Sang
Pamomong Pandawa tersebut.Semua yang hadir jadi trenyuh. Sadarlah sang prabu bahwa selama ini telah melupakan
rakyatnya yang dilanda kesulitan dan kesengsaraan hebat. Dia berjanji dalam
hati, akan segera menyejahterkanan rakyat negeri Amarta, biar jadi gemah ripah, loh jinawi, adil makmur seperti yang dicita-citakan Negara.
Bagong dan
Petruk yang sejak tadi menyaksikan semua kejadian dengan bengong, langsung
menghidupkan home theatre yang ada di
ruangan itu, karena lelakonnya happy
ending. Kalau para artis nusantara punya acara: “Mendadak Dangdut”, maka
semua yang hadir di istana menjadi “Mendadak Tayuban”. Para gadis dayang-dayang
langsung berdiri ikut menari hot, dengan iriangan gendhing Godril Semarangan. Ngibing terus, sampai pagi, sampai tua,
teriak Bagong. Hahaha….
Semarang, 16 Juli 2010.
(Sudah dipublikasikan di Harian
Semarang)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:
Posting Komentar